Take Courage Interview Series – Alien & Indra

  • Halo, Alien dan Indra, boleh ceritakan sedikit tentang kalian dan Transit Bookstore? Ceritain dong, awal mula kalian sepakat untuk memulai Transit Bookstore? Apakah Transit Bookstore atau membuka toko buku adalah mimpi kalian?
    Halo. Kami berdua sudah berteman sejak SMP dan sangat senang membaca sejak kecil. Salah satu momen paling memorable kami yang berhubungan dengan buku adalah sewaktu kami membaca buku serial Harry Potter hampir berbarengan. Waktu itu buku Harry Potter baru saja masuk ke Indonesia. Indra membaca bukunya dalam Bahasa Inggris, pinjam ke kakak kelas kami, sedangkan Alien membaca bukunya dalam Bahasa Indonesia.

Waktu itu, buku terjemahan dalam Bahasa Indonesianya diterbitkan belakangan, sehingga Indra sudah membaca beberapa buku lebih dulu daripada Alien. Karena lebih duluan baca, Indra sempat mengganggu Alien dengan sedikit spoiler dan Alien bisa marah berlebihan. Sewaktu kami duduk di kelas 2 SMP, kami menemukan teman-teman lain yang membaca Harry Potter dalam waktu yang hampir berbarengan, jadi kami sempat membentuk grup pecinta Harry Potter di sekolah.

Ide untuk membangun sebuah toko buku sebenarnya sudah lama kami bicarakan dengan santai. Kami sering ketemu untuk makan bareng sambil membicarakan buku-buku yang sedang kami baca atau yang kami suka. Lama kelamaan, tumbuh rasa ingin membuat sesuatu dengan hobi membaca kami.

Pemikiran tentang membangun toko buku ini menjadi lebih konkret ketika kami berdua kuliah S2 di luar negeri. Kami jadi tahu berbagai bentuk dan gaya toko buku independen dan kami semakin ingin untuk membentuk toko buku milik kami sendiri.

Indra mengajak Alien untuk merealisasikan ide-ide untuk membangun toko buku ini. Alien tidak terlalu banyak pertimbangan untuk mengiyakan ajakan bisnis ini karena bisnis toko buku risikonya sangat kecil. Jika buku yang dijual tidak laku, bukunya bisa kami ambil sendiri. Karena kami berdua memang pecinta buku, kami tidak menganggap hal ini sebagai suatu kerugian.

Walaupun sudah sepakat, karena kami berdua sama-sama sibuk bekerja, kami tidak langsung meluangkan waktu untuk serius mewujudkan ide bisnis toko buku ini. Sampai pada 2018, terjadi gempa di Jakarta yang mengingatkan Indra akan kematian. Saat menyadari bahwa kematian bisa datang tiba-tiba, Indra hanya menyadari bahwa dia belum siap menerima kematian karena dia belum punya toko buku. Saat itu juga, Indra mengontak Alien dan proses pembangunan Transit Bookstore mulai.

Proses riset pasar dan brainstorming Transit lumayan lama. Setelah berdiskusi lama, kami akhirnya memutuskan untuk membangun toko buku yang hanya menjual buku Bahasa Inggris. Hal ini didorong oleh kebutuhan kami sendiri yang susah menemukan buku-buku Bahasa Inggris di Indonesia, terutama di Jakarta.

Berangkat dari situ, kami kemudian mengerucutkan fokus Transit Bookstore, hingga terbentuklah visi dan misi toko buku kecil kami. Transit Bookstore adalah toko buku independen yang kami kurasi berdasarkan tema terpilih dan tema tersebut kami ganti secara berkala. Secara umum, tema Transit Bookstore adalah “journey” karena visi kami adalah menghubungkan pengalaman membaca dengan pengalaman travelling. Buku-buku yang kami jual di Transit Bookstore menyajikan cerita yang latar belakang tempatnya benar ada di dunia ini, misalnya latar belakang kota Lagos, di Nigeria, atau desa kecil di Perancis Selatan, dan lain-lain. Kami harap, buku-buku yang kami kurasi ini bisa mendorong pembaca untuk langsung dapat membayangkan kehidupan masyarakat di tempat-tempat tersebut ketika membacanya.

Lalu, setiap enam bulan sekali, kami mengganti koleksi buku-buku yang kami jual berdasarkan tema kecil yang kami pilih. Saat ini, tema kami berjudul “In the Margins”. Selama tema ini, kami menjual buku-buku yang kami nobatkan sebagai buku-buku yang jarang masuk ke dunia perbukuan Indonesia. Ada 4 aspek dari sebuah buku yang kami soroti selama tema “In the Margins” ini:

  1. Buku-buku yang ditulis oleh penulis yang terkenal di negara-negara lain, tapi tidak terkenal di Indonesia
  2. Buku-buku Bahasa Inggris yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil di dunia
  3. Buku-buku yang membahas topik yang jarang dibahas di Indonesia
  4. Buku-buku yang latar belakang tempatnya adalah tempat yang tidak biasa didengar oleh pembaca Indonesia.

 

Sebelum tema ini, tema-tema kami yang lain adalah:

  1. Displacement: buku-buku tentang orang-orang yang dipaksa atau terpaksa pindah dari rumahnya.
  2. World’s Women Writers: buku-buku yang ditulis oleh perempuan
  3. Know Your Neighbours: buku-buku tentang dan/atau berlatar belakang negara-negara tetangga Indonesia
  4. Resist!: buku-buku bertema perjuangan atau perlawanan terhadap opresi
  5. Inqueery: buku-buku queer
  6. Bonds: buku-buku yang menceritakan hubungan pertemanan dan keluarga
  7. Among the Elements: buku-buku yang menceritakan hubungan manusia dengan hal-hal konkret dan abstrak yang ada di sekitar kita
  8. Mind & Body: buku-buku yang menceritakan hubungan manusia dengan tubuh dan pikiran kita.

  • Apakah Transit Bookstore atau membuka toko buku adalah mimpi kalian?

Salah satu mimpi kami, yes.

  • Sekarang kan tidak banyak lagi toko buku di Indonesia dan rata-rata juga sering sepi pengunjung, kenapa kalian malah berani untuk menjalankan toko buku?
    Salah satu hal yang mendorong kami untuk membuka toko buku sendiri adalah banyak sekali buku yang ingin kami baca sendiri tapi sulit untuk mendapatkannya di Indonesia, khususnya di Jakarta. Kami menyadari bahwa bisnis toko buku bukanlah bisnis yang langsung menguntungkan, tapi kami juga paham bahwa potensi untuk mengembangkan bisnis ini sangat besar. Saat ini, jumlah toko buku di Jakarta masih sangat rendah, apalagi jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Toko-toko buku yang ada di Jakarta saat ini juga dimiliki oleh 1-3 perusahaan besar, sehingga walaupun toko mereka ada di berbagai lokasi, namun koleksinya serupa. Keresahan ini dan kebutuhan kami pribadi akan koleksi buku yang variatif dan terus berganti inilah yang membuat kami optimis bahwa bisnis kami akan sukses di masa depan.

  • Ceritakan juga dong tantangan yang dihadapi saat menjalankan toko buku.
    Tantangan terbesar kami adalah ego kami sendiri. Seringnya, kami terlalu bersemangat untuk membawa buku yang benar-benar tidak populer di Indonesia, sehingga orang yang lewat di depan toko kami juga tidak terdorong untuk masuk dan bertanya-tanya soal buku-buku koleksi kami – mungkin karena tidak ada sense of familiarity.
    Tantangan lainnya kebanyakan yang berhubungan dengan operasional.
    Misalnya: susah mencari team member(s) yang ketertarikannya pada buku dan pada berjualan buku serupa dengan kami.
    Selain itu, tantangan lain yang harus kami hadapi terus-menerus adalah perihal lokasi.
    Di awal kami membangun Transit, di 2018, sulit rasanya mendapatkan lokasi yang tepat untuk mewujudkan visi toko buku keinginan kami. Kami butuh waktu hampir 1 tahun untuk mendapatkan sebuah kios di Pasar Santa. Setelah kami pindah ke Urban Farm PIK pada Juli 2022, kami harus terus-menerus menjawab pertanyaan dan keluhan mengenai “jauhnya” lokasi toko buku kami.

  • Apakah ada momen tertentu yang membuat kalian bahagia atau puas karena sudah mengejar mimpi kalian membuka toko buku?
    Sebagai manusia, kami belum bisa bilang bahwa kami puas. Masih banyak hal-hal yang bisa diperbaiki dan dikembangkan lagi dari Transit Bookstore. Jadi untuk merasa puas, masih jauh, tapi kami bahagia sudah bisa memulai bisnis ini.


  • Apa ada mimpi kalian selanjutnya untuk Transit Bookstore?
    Mimpi kami adalah agar Transit Bookstore punya tempat permanen yang kami miliki sendiri dengan luas yang cukup untuk menampung semua buku yang kami ingin stok.

Kami juga bermimpi bisa mendatangkan berbagai penulis, penerjemah, dan penerbit asing ke toko kami, sehingga kami bisa menyelenggarakan berbagai acara seperti book launches dan book signing sessions.

  • Apakah kalian punya saran untuk mereka-mereka yang sedang bermimpi untuk membuka bisnis sendiri?
    Sebagai disclaimer, saran-saran ini adalah hal-hal yang works bagi kami dan belum tentu relevan atau sesuai dengan keadaan orang lain. Namun demikian, kami harap apa yang kami bagikan bisa memicu ide-ide baru ataupun menambah semangat bagi orang-orang yang memang sedang bermimpi untuk membuka usahanya sendiri:
  1. Tetapkan risiko maksimum yang mau diambil, dan siapkan model atau bentuk usaha sesuai risiko tersebut. Contohnya Alien dan Indra menyiapkan modal awal sesuai dengan risiko maksimum masing-masing dan sepakat untuk menyesuaikan bentuk usaha sesuai modal awal tersebut. Jadinya, kami harus mencari konsep toko buku dengan skala kecil, tapi menarik, dan tidak memakan biaya yang terlalu besar untuk sewa tempat. Jadilah kami memulai usaha kami di Pasar Santa.
  2. Bebaskan kreativitas dan jangan terpaku pada pakem yang ada. Toko buku tidak harus seperti Gramedia. Ruangan toko tidak harus selalu luas. Carilah bentuk yang menarik yang sesuai dengan kreativitas masing-masing.
  3. Riset, riset, dan riset. Sebelum membuka toko, kami melakukan wawancara dengan banyak orang untuk menentukan bentuk toko buku seperti apa yang berbeda dengan yang mainstream namun masih bisa diterima atau bahkan bisa memenuhi keinginan pembaca yang belum bisa disediakan oleh toko buku lainnya. Bahkan setelah toko buka pun, kami selalu mewawancara pembaca sebelum meluncurkan suatu fitur baru.
  • Mulailah dengan sesuatu yang memang diketahui betul atau yang sangat diminati. Hal itu akan menjadi sumber energi yang bisa mendayai upaya dalam menekuni bisnis tersebut. Menjalani bisnis itu seperti sebuah maraton, perlu tenaga dan interest yang konstan. Temukanlah hal-hal yang membuat kalian bahagia di bisnis tersebut dan jadikanlah itu salah satu tolok ukur kesuksesan bisnisnya.

Share this post to

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram

Latest News

Book your Course Now!

Take the first step towards your personal and professional development by booking your course at Binawan Training Center (BTC). Our comprehensive range of courses is designed to equip you with the skills and knowledge needed to excel in your chosen field.